Tarekat dan politik: Amalan untuk dunia atau akherat?
Publication date
1992
Authors
Bruinessen, M.M. van
Editors
Advisors
Supervisors
DOI
Document Type
Preprint
Metadata
Show full item recordCollections
License
Abstract
Beberapa bait ini, dari Syair Perang Menteng, menceritakan
perlawanan orang Palembang terhadap pasukan Belanda yang
dikirim untuk menaklukkan kota mereka pada tahun 1819. Perang ini
dikenal dengan nama komandan pasukan Belanda, Muntinghe, yang
dimelayukan menjadi Menteng. Sang penyair Melayu
menggambarkan bagaimana kaum putihan ("haji") mempersiapkan
diri untuk berjihad fi sabillillah. Mereka membaca asma (al-Malik, al-
Jabbar), berzikir dan beratib dengan suara keras sampai "fana".
Dalam keadaan tak sadar ("mabuk zikir") mereka menyerang tentara
Belanda. Mereka berani mati, mungkin juga merasa kebal dan sakti
lantaran amalan tadi, dan dibalut semangat dan keberanian mereka
berhasil mengalahkan serangan pertama pasukan Belanda.